Monday, June 30, 2008
Festival teater anak kampung
FESTIVAL TEATER ANAK KAMPUNG
“Guyub Rukun mBangun Kampung”
Yogyakarta; 27 Juni – 6 Juli 2008
Kampung dan anak? Selintas nampak ada pertautannya, namun jika ditelisik lebih jauh, kita akan terbengong-bengong dengan kenyataan. Betapa sesungguhnya, kampung-kampung kita telah lama melupakan anak. Adakah peristiwa kampung yang sungguh didedikasikan untuk anak? Rapat RT, Ronda kampung, Arisan, Perayaan tujuh belasan atawa hari kemerdekaan? Bahkan, POSYANDU, PAUD pun lebih merupakan mimpi orang dewasa untuk anak-anak. Lalu kita terpaksa bertanya-tanya, apakah kita ini sungguh pelupa, sehingga dengan mudah menyingkirkan masa yang belum lama pergi itu: masa kanak-kanak di kampung?
Dunia kanak adalah dunia bermain, berimaginasi, dan mencipta banyak pilihan (baca alternatif). Berkat hasrat ingin tahu dan kebebasan mereka atas norma dan nilai (yang kebanyakan untuk orang dewasa), anak-anak semestinya bisa menjadi lebih kreatif dan kaya dalam mengekspresikan diri, sama halnya dalam menjawab keingintahuan mereka. Dan bukankah anak-anak adalah bagian integral sebuah komunitas, yang bukan sekedar manusia kecil atau manusia belum sempurna, yang juga memiliki kebutuhan, hak , dan tanggung jawab sebagai anak-anak? Ini yang kerap kita lupakan. Menciptakan ruang bagi anak-anak untuk bisa berekspresi sebagai kanak-kanak dan bisa diakui dan diapresiasi oleh warga komunitas mereka (orang tua, orang dewasa, anak muda, atau remaja), menjadi sebuah kebutuhan. Di titik inilah, kami selanjutnya memilih seni pertunjukan, teater, menjadi salah satu pilihan alternatif media bersama, sebagai bahasa universal anak-anak. Seni pertunjukan bisa menjadi ruang bagi anak untuk serba bertanya mengenai keseharian, serba mencari, serba ingin mencoba, dan serba bereksplorasi mengkreasi sesuatu.
Anak Wayang Indonesia (AWI), Yayasan Pondok Rakyat (YPR), Paragraf 01, dan Sanggar Leak; bersama dengan remaja dan anak-anak di Kampung Juminahan-Jagalan, Kampung Badran, Kampung Golo, dan Kampung Ngampon, membuat sebuah acara Festival Teater Anak Kampung (FTA). Acara yang benar-benar untuk anak-anak, oleh anak-anak, dan dari anak-anak. Mulai dari merencanakan obrolan bersama, membuat undangan, merencanakan pertemuan, ngampiri temannya, mengusulkan kegiatan, membahas bersama, membuat jadwal, membuat workshop, menyusun cerita bersama, membuat naskah, menentukan jam latihan, latihan bersama, membuat kostum, merencanakan pentas, bahkan susahnya mencari tempat untuk latihan dan pentas atawa tidak mudahnya menggabungkan anak dengan selain teman sepermainannya. Proses ini menjadi media untuk belajar bersama komunitas dan antarkomunitas. Setelah anak-anak berproses, melalui festival, anak-anak akan mementaskan kreativitas mereka di dalam komunitas atau kampung mereka, dan selanjutnya akan diapresiasi tidak saja oleh anak-anak yang lain, namun juga oleh bukan anak-anak, bahkan warga dari kampung lain. Berani mengenal diri, orang lain, kampung dan komunitas kampung yang lain. Bukankah ini sebuah bentuk Guyub Rukun?
Berikut jadwal kegiatan Festival Teater Anak:
Kampung Jagalan, Kelurahan Pakualaman, Kecamatan Purwokinanti Kota Yogyakarta
Di lapangan Badminton, Jumat, 27 juni 2008, jam : 14.00- 17.00 wib
acara:
1). 14.00pm-14.30pm. Sambutan dan Pembukaan
a). RW atau perwakilan (10 menit)
b). ketua panitia (10 menit)
2). 14.30pm-17.00pm. Acara Pementasan
a). Tari dolala (30 menit)
b). Perkusi jimbe (10menit)
c). teater Anak. Synopsis ”dinamika keluarga” (30 menit)
d). musik akustik (10 menit)
Kampung Ngampon, Kelurahan Sitimulyo, Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul
Di Balai dusun Ngampon, Minggu 29 Juni 2008, 12.30pm-16.30pm
Acara:
12.30 – 12.40 Opening
13.00 – Ketoprak ande2 lumut
13.30 – wayang kardus tema: lele dumbo”
13.50 – teater dari Anak Bukit Hijau “Jaman Edan”
14.20 – Teater dari By Reca “Manuk Ciblek”
14.45 – Ishoma
15.30 – Tari Ndolalak
15.50 – ketoprak Damar Wulan
16.30 -Penutup
Kampung Golo, Kelurahan Mergangsan, Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta
Depan Pendopo Golo, Sabtu, 5 juli 2008, 19.30 – 21.30
acara:
1. band reagge
2. teater
3. perkusi jimbe
Kampung Badran, Kelurahan Bumijo Kecamatan Jetis Kota Yogyakarta
Depan rumah Pak Munarto Ketua RW 11, Minggu, 6 juli 2008, Pementasan15. 00 WIB-17.00 WIB, Lomba Menggambar, 09.00am-07.00pm
Judul pementasan
Impian kampung masa depan
1). lomba menggambar “impian kampung” waktu 09.00 am-07.00pm.
2). Pementasan Acara : Minggu, 6 Juli 2008, Gambar 2 Juli 2008
gerak dan lagu
menyanyi dan kareoke
teater “Loper Koran Mencari Cinta”
Contac person:
Koordinator acara : Sipin 0274-7819106
Koordinator Kampung Badran : Sani 08562870174
Koordinator Kampung Ngampon : Nofendi 0274-7813280
Koordinator Kampung Jagalan : Pak Petel 0274-7171477
Koordinator Kampung Pakelrejo : Edi 05292636040
Acara in didukung oleh : Anak Wayang Indonesia (AWI), Yayasan Pondok Rakyat (YPR), Sanggar Leak, Paragraf 01, SHEEP Indonesia dan Satunama
Semoga berkenan & Salam Kampungan Muklas Aji Setiawan
email : moek_klas@yahoo.com / omahopak@gmail.com blog : matakampungan.multiply.com kantor : Yayasan Pondok Rakyat (YPR) alamat : nagan Lor no 19 Kraton Yogyakarta telp : 0274-372525 web : www.ypr.or.id email : ypr@ypr.or.id
Friday, June 20, 2008
Wednesday, February 20, 2008
Tuesday, January 1, 2008
sebelum tahun berganti
aahhh..... aku telah menjanjikan pada banyak orang.. dan tentu aku sangat mudah untuk menipunya dengan berbagai alasan. tentu ada banyak sekali "kudung" yang kukenakan. sangat mudah aku melupakan sebuah komitmen...
mungkin karena aku tidak punya dendam dan selalu berpindah dari satu kenyamanan satu ke kenyamanan yang lain. aku tidak pernah "menderita". begitu kata banyak orang. mungkin ada benarnya. sebuah hal yang kadang aku lupakan adalah aku tidak pernah berjanji pada diriku sendiri. kepada sebuah cita-cita, kepada sebuah keinginan, kepada sebuah harapan...
aku masih sendiri dan tidak pernah berubah di tahun ini, namun aku kadang tidak menyadari kesendirian ini, yang muncul hanyalah sebuah pembelaan terhadap diri, bukan sebuah keinginan yang kuat untuk berubah. bukan dalam hitungan detik seperti Ultramen ataupun batman ataupu supermen. aku hanyalah orang kecil yang harus meniti sendiri, dan lepas dari tetahan orang lain. aku hanyalah orang biasa yang tidak mungkin bisa dengan mudah besar seperti pisang yang diunduh setengah matang kemudian di beri karbit agar menjadi matang. aku harus meniti jalanku sendiri, meniti dengan tertatih, dengan sebuah kata......
mungkin karena aku tidak punya dendam dan selalu berpindah dari satu kenyamanan satu ke kenyamanan yang lain. aku tidak pernah "menderita". begitu kata banyak orang. mungkin ada benarnya. sebuah hal yang kadang aku lupakan adalah aku tidak pernah berjanji pada diriku sendiri. kepada sebuah cita-cita, kepada sebuah keinginan, kepada sebuah harapan...
aku masih sendiri dan tidak pernah berubah di tahun ini, namun aku kadang tidak menyadari kesendirian ini, yang muncul hanyalah sebuah pembelaan terhadap diri, bukan sebuah keinginan yang kuat untuk berubah. bukan dalam hitungan detik seperti Ultramen ataupun batman ataupu supermen. aku hanyalah orang kecil yang harus meniti sendiri, dan lepas dari tetahan orang lain. aku hanyalah orang biasa yang tidak mungkin bisa dengan mudah besar seperti pisang yang diunduh setengah matang kemudian di beri karbit agar menjadi matang. aku harus meniti jalanku sendiri, meniti dengan tertatih, dengan sebuah kata......
pemerdekaan
Wednesday, December 26, 2007
akhir tahun
balai
balai bersama;

mungkin demikian sebuah keinginan dari beberapa orang di sebuah kampung pinggiran di jogja. sebuah kampung yang sangat padat dan tidak ada tanah yang tersisa untuk menampung kegiatan mereka sehari-hari. balai RW ataupun apapun namanya, sanggar, ruang bersama, adalah juga tempat untuk media saling "tukar" terlebih tukar "kawruh", tukar pengalaman dan juga sebagai tempat untuk berembuk bersama untuk memajukan sebuah komunitasnya.
namun berbeda dengan balai ini. sangat banyak orang bersama-sama membuat dan bekerja dengan begitu kerasnya.
bersama berusaha untuk memiliki ruang bersama di sebuah tanah tak bertuan, pinggir kali winongo. kini hanya sebuah cerita yang tertinggal, sebuah cerita tentang keputusasaan........
mungkin demikian sebuah keinginan dari beberapa orang di sebuah kampung pinggiran di jogja. sebuah kampung yang sangat padat dan tidak ada tanah yang tersisa untuk menampung kegiatan mereka sehari-hari. balai RW ataupun apapun namanya, sanggar, ruang bersama, adalah juga tempat untuk media saling "tukar" terlebih tukar "kawruh", tukar pengalaman dan juga sebagai tempat untuk berembuk bersama untuk memajukan sebuah komunitasnya.
namun berbeda dengan balai ini. sangat banyak orang bersama-sama membuat dan bekerja dengan begitu kerasnya.
Saturday, December 15, 2007
dusunku.....
apa lagi yang bisa kuceritakan yah....
oya ini foto pasca gempa, asik kan melihat dulunya rumah-rumah teng jlempah kini rata dengan tanah. jadi bisa teriak dengan keras dan jadi bisa melihat merapi dengan jelas dari selatan dusun.
Subscribe to:
Posts (Atom)


